Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan Gelar Tradisi Perang Pandan

foto : Oke

KARANGASEM – Warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan kembali menggelar tradisi perang pandan. Tradisi siat pandan atau Makare Kare digelar di depan Balai Petemon Kaja. Balasan pemuda ikut serta saling adu geret menggunakan daun pandan berduri dan mengakibatkan luka gores dan berdarah. Darah inilah bagian dipercayai sebagai Yadnya atau pengorbanan warga setempat untuk menghormati tradisinya.

Menurut salah satu tokoh masyarakat Tenganan Penggringsingan, Nengah Timur (60), Perang Pandan terkait dengan Ngusaba Sambeh yang merupakan Aci terbesar di Desa adat Tenganan. Aci ini sendiri digelar selama satu bulan penuh sejak akhir bulan Mei lalu. Ngusaba Sambeh ini dilakukan setiap tahun sekali dua kali bulan Juni dan sekali Bulan Juli. Sementara hitungan bulan menggunakan Kalender khusus Tenganan.

Sebelum Perang Pandan diawali dengan sangkepan Desa. Dimana warga Desa Tenganan duduk bersila di Balai Desa sambil didampingi jajanan. Siang kemarin juga dilakukan upacara Di Deha dengan Nuur Ide  Betara di Pura Kubu Langlang, Naga Sulung dan dan Tegal Gimbal. Tiga Pura tersebut ada diatas bukit. Ide Betara ini metuur setiap Ngusaba Sambeh dan mesandekan di Asrama Deha olah Subak Desa. Penuur sendiri dilakukan Deha dan Teruna Tenganan.

Sangkapan sebelum Makare juga diikuti semua soroh yang ada di Tenganan. Diantaranya ada Pande dan Pasek juga. Menurut Timur, Pande dan Pasek ini memang tidak masuk asli warga Tenganan. Mereka ini didatangkan ke Tenganan pada jaman dulu dengan tugas tertentu. Untuk diketahui di Tenganan sudah ada Sembilan soroh.  Pande ini didatangkan dengan tugas membuat pisau dan alat alat dapur. Sementara Pasek mendapat tugas untuk memelihara Babi jantan hitam.

“Pande dan Pasek didatangkan tetua dulu dari luar Desa,” ujarnya. Hanya saja sekarang ini mereka sudah bermukim di Tenganan. Warga Pasek dan Pande ini diberikan tanah tempat tinggal dan rumah di bikinkan Desa.

Sementara mereka ini juga wajib ikut aktifitas keagamaan di Tenagan. Hanya saja mereka ini memang tidak mendapat hak penuh dari pengasilan Desa namun hanya separuhnya. Bede dengan warga asli Tenganan.

Memelihara babi hitam jantan bagi warga Tenganan wajib dilakukan karena semua kebutuhan upacara adat menggunakan babi jenis itu. Babi pejantan ini selalu digunakan sebagai sarana upacara dari manusia yadnya sampai fitra yadnya. Sementara soroh tenganan  asli adalah Sanghyang, Bendesa dan  Prajurit. Bendesa sendiri saat bertugas meminpin upacara keagamaan di Tenganan sebagai Pemangku. Sementara untuk soroh lainya sudah tidak banyak yang menjalankan fungsinya seperti Prajurit.

Sementara perang pandan juga melambangkan ketulusan. Sehingga tidak ada dendam apalagi emosi. Semua dilakukan dengan suka cita. “Ya mereka ini meyadnya dengan mengorbankan badan mereka di geret dengan pandan berduri,” ujarnya.

Sementara pandan yang digunakan sebagai senjata dalam megeret pandan khusus didatangkan dari Tenganan. Pandan ini dikeluarkan para teruna Desa. “Tergantung jumah teruna terkadang sama sama 200 lembar,” ujarnya.

Saat dilakukan tradisi Makare Kare ini di iiringi dengan gambelan sacral Selonding. Bahkan untuk jadi juri gambel Selonding juga melalui proses ritual tertentu. Ini karena gambelan dari jaman Majapahit ini memang sangat di sakralkan di Tenganan dan beberapa Desa tua di Bali. sementara usai megerat pandan semua peserta teruna dan warga Desa melakukan makan bersama dengan megibung di samping arena geret pandan. Nampak suasana ceria diantara merka sekalipun banyak tubuh mereka yang luka karna di geret lawan mainya saat makare kare. (Oke)

Komentar